Dia adalah Krisna Yusuf, pemain Arema U-13 yang beruji coba melawan tim dari Gresik. Pertandingan dilakukan di Bangil, Kabupaten Pasuruan. Tergeletak di tengah pertandingan, membuat Krisna segera dilarikan ke salah satu rumah sakit di Bangil. Selanjutnya Krisna dirujuk ke RSSA (Rumah Sakit Saiful Anwar) di Kota Malang. Dalam perjalanan, Krisna menghembuskan nafas terakhirnya.
Dilansir dari indosport.com (21/03/2018) diduga kematian Krisna dikarenakan kelelahan. Pasalnya, Krisna melakukan pertandingan selama 2 hari berturut-turut. Sedangkan pada hari terakhir, timnya melakukan uji coba pada siang hari. Hal ini tentunya sudah melanggar kaidah-kaidah fisiologis tubuh.
Dalam kondisi ini, seharusnya pelatih paham jika bertanding disiang hari itu tidak boleh. Disamping itu, pelatih juga harus paham kondisi para pemainnya. Jangan karena ingin menang, pelatih mengorbankan pemainnya seperti ini.

Hal ini membuat keluarga Krisna terpukul. Krisna terkenal sebagai sosok anak yang baik dan tidak terlalu banyak tingkah. Krisna juga pernah menjadi top skor dalam sebuah turnamen yang diselenggarakan di Kota Malang.
Sungguh miris mendengar kejadian ini. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas pelatih dan kurikulum sekolah sepak bola di Indonesia harus dibenahi. Untungnya, sekarang PSSI bekerja sama dengan Kemenpora membangun program Grassroot.
SUMBER

